Tuesday, November 13, 2012

Budaya Nongkrong Di Kampus

Sebagian orang mungkin menganggap budaya ‘nongkrong’ itu cuma buang-buang waktu.  Tapi kita semua gak usah naïf, kalo ditongkrongan juga kita kadang dapet ilmu yang gak pernah kita dapet dari pendidikan formal.
Kalo lo masih beranggapan  kegiatan nongkrong itu negatif, coba deh lo pikir lagi atau lo bisa nyoba untuk sesekali gabung supaya lo sendiri punya bukti pengalaman apa dan bagaimana budaya nongkrong itu sebenernya. Dan misalkan lo emang ngerasa nongkrong itu ‘wasting time’, seengganya itu dari pengalaman empirik lo, bukan dari perspektif orang lain.
Disini gue cuma mau blakblakan, kenapa? Karena gue (mungkin lo juga) ngerasa ‘gerah’ dengan image negatif segelintir (atau mungkin mainstream) orang tentang tongkrongan. Dan anehnya beberapa orang (oknum mahasiswa atau dosen) *keceplosan* yang mencap itu belom pernah terlibat langsung ditongkrongan.
Tongkrongan bukan sekedar buat have fun, kalo lo gak percaya tongkrongan juga punya sisi positif, ada kok. Misalnya, dari obrolan-obrolan kecil atau bahkan curhat beberapa temen lo ditongkrongan, lo bisa dapet nilai kehidupan dari pengalaman mereka yang mungkin aja berguna buat lo nanti. Selain itu, ditongkrongan juga secara gak langsung lo lagi belajar ilmu sosiologi. Yep, karena disetiap tongkrongan lo pasti nemuin yang namanya interaksi, interelasi, solidaritas dan soliditas disana, dan itu semua termasuk proses sosialisasi.
Tapi lo juga harus aware milih tongkrongan, jangan sampe lo malah terjerumus di ‘zona’ yang salah dan akhirnya lo keasyikan nongkrong terus nyepelein kuliah lo. Yaa lo udah dewasa kan? So, you can carry on yourself lah.
Nah ! gimana sob? Masih betah sama ‘pandangan miring’ lo itu? Atau mungkin lo mau langsung gabung ke tongkrongan? Jangan deh ! mikir dulu lah :D

Dramaturgi

Mahasiswa yang mengambil jurusan pendidikan baik dari jurusan mana pun pasti akan merasakan namanya PPL atau praktek pembelajaran Lapangan, yang biasanya di laksanakan di tiap sekolah-sekolah  sekitar, mulai dari Play group sampai Tingkat SMA. Mahasiswa terjun langsung di sekolah guna mempraktekan ilmu pendidikan yang didapatkannya di bangku sekolah dan memperoleh pelatihan yang dilakukan oleh guru mata pelajaran yang bersangkutan atau disebut guru pamong.
Mahasiswa yang terjun langsung ke lapangan diharapkan mendapatkan pembelajaran sekaligus pelatihan guna menjadi guru yang professional. Dalam pembelajaran untuk menjadi guru professional mahasiswa di haruskan mengikuti kode etik guru.
Permasalahan timbul bagi mahasiswa yang memiliki sikap yang berbanding terbalik dengan kode etik guru tersebut dan kesulitan untuk beradaptasi.  Banyak kasus yang menemukan bahwa sebagian mahasiswa harus berpura-pura menjadi guru dan dengan sekuat tenaga menekan atau tidak memperlihatkan sikap yang ditunjukan dalam pergaulan sehari-hari di sekolah.
menganalisa kasus di atas meminjam istilah dari Erving Goffman yakni dramaturgi, sebuah teori yang menggambbarkan mengenai rentetan kehidupan sosial seperti pertunjukan drama dalam pentas. Dimana individu mencoba memainkan peran yang lain yang disediakan oleh dunia sosial. Dan dramaturgi ini biasanya terjadi dalam institusi total seperti pendidikan, militer. Yang membutuhkan penghambaan tinggi terhadap institusi.
Mahasiswa yang berpura-pura untuk menjadi seorang guru tidak lebih merupakan sebuah dramaturgi dimana sekolah di jadikan sebagai panggungnya atau setting tempat untuk dijadikan tempat pementasan. Perlu di ingat dalam konsep dramaturgi terdapat dua konsep yakni front stage dan back stage. Front Stage merupakan latar depan panggung dimana actor mempresentasikan berbagai peran yang dilakukannya.  Dalam front stage terdapat setting dan front personal. Setting lebih mengarah kepada kondisi-kondisi serta pemandangan fisik yang harus ada atau telah disiapkan untuk dimainkan oleh actor tersebut. Sebagaimana yang disebutkan bahwa sekolah menjadi bagian dari front stage sebuah dramaturgi yang di lakukan oleh mahasiswa yang sedang PPL. Mahasiswa berpakaian rapi mengenakan kemeja, celana bahan dan menggunakan sepatu pantofel. Layaknya seorang guru yang berpakaian rapih dan siap mengajar di kelas. Tetapi itu hanya peran belaka bagi mahasiswa yang sedang PPL demi nilai semata. Dan mulai membiasakan diri untuk di cium tangannya dan menjaga sikap di depan para anak didik ketika di sekolah.
Lain di sekolah lain pula di luar, mahasiswa ini mulai menanggalkan atributnya dan kembali yang menjadi dirinya, yang biasanya merokok maka ia merokok, yang biasanya ga betah bajunya di masukan kedalam celana maka bajunya pun dikeluarkan dari celana dan mengganti celana bahan dengan celana jeans atau lainnya. Dalam hal ini konsep back stage bermain yakni kembalinya individu terhadap peran awalnya. Dalam back stage seseorang bebas mengekspersikan dirinya kembali tanpa khawatir atau pun ragu-ragu mengenai orang yang melihatnya. Karena dalam backstage tidak aka nada penonton yang akan melihat actor sedang melakukan apa. Penoton hanya melihat actor ketika didepan panggung tidak ada yang tahu ketika di belakang panggung actor seperti apa. Karena tidak adanya penonton ini lah yang menyebabkan back stage merupakan bagian yang aman untuk mengeksperikan kembali setelah melakukan peran yang berbeda di depan panggung. Sama seperti mahasiswa ini ketika di sekolah ia bersikap dan berperilaku selayaknya seorang guru tetapi ketika di luar ia akan menjadi dirinya kembali.
Dramaturgi meskipun kita melihatnya sebagai bagian dari sebuah kepicikan karena berpura-pura menjadi orang lain tetepi dramaturgi ini merupakan bagian dari sebuah komunikasi. Dramaturgi merupakan alat komunikasi yang berbeda dengan alat komunikasi konvensional. Dalam konvensional pemaksimalan penggunaan indera verbal dan non verbal untuk menggapai hasil akhir dari tujuan komunikasi yang dilakukannya. Sedangkan dramaturgi meliputi keseluruhan dari komunikasi dan memaksimalkannya agar memperoleh feedback dari para penonton. Lalu apa feed back dari seorang mahasiswa yang sedan melakukan dramaturgi disekolah? Feedbacknya yakni dia akan dianggap sebagai seorang guru meskipun hanya berstatus PPL,  Guru yang dihormati oleh anak didik. Yah komunikasi yang dilakukan dengan sebuah pencitraan seorang mahasiswa yang bermetamorfosa menjadi seorang guru meskipun dalam masa pelatihan untuk menjadi guru yang professional, ditambah dengan bahasa verbal dan non verbal yang dilakukannya seperti gerak- geriknya layaknya seorang guru maka tidak heran kalau feedback yang diberikan oleh penonton yang tidak lain anak didik akan menganggapnya seorang guru

Monday, January 24, 2011

PEREMPUAN DALAM JEJAK-JEJAK EKSISTENSIALISME

“One is not born, but rather becomes a woman” (Simone de Beauvoir)

1. SIAPAKAH PEREMPUAN?

Dalam banyak kajian tentang Feminisme—baik itu Feminisme Liberal, Sosialis, dan Radikal. Pembahasan mengenai kaum perempuan telah menghasilkan sejumlah tafsiran. Feminisme Liberal menyatakan bahwa kebebasan dan kesamaan berakar pada rasionalitas dan pemisahan antara dunia privat dan publik. Setiap manusia—demikian menurut mereka—punya kapasitas untuk berpikir dan bertindak secara rasional, begitu pula pada perempuan. Akar ketertindasan dan keterbelakngan pada perempuan ialah karena disebabkan oleh kesalahan perempuan itu sendiri. Perempuan harus mempersiapkan diri agar mereka bisa bersaing di dunia dalam kerangka "persaingan bebas" dan punya kedudukan setara dengan lelaki.

Sedangkan untuk Feminisme Sosialis, lebih menekankan atas perjuangan penghapusan sistem pemilikan. Lembaga perkawinan yang melegalisir pemilikan pria atas harta dan pemilikan suami atas istri dihapuskan seperti ide Marx yang menginginkan suatu masyarakat tanpa kelas, tanpa pembedaan gender. Seperti dicontohkan oleh seorang tokoh teori kritis, Nancy Fraser. Di Amerika Serikat, keluarga inti dikepalai oleh laki-laki dan ekonomi resmi dikepalai oleh negara karena peran warga negara dan pekerja adalah peran maskulin, sedangkan peran sebagai konsumen dan pengasuh anak adalah peran feminin. Agenda perjuagan untuk memeranginya adalah menghapuskan kapitalisme dan sistem patriarki. Dalam konteks Indonesia, analisis ini bermanfaat untuk melihat masalah-masalah kemiskinan yang menjadi beban perempuan.

Pada apa yang disebut dalam Feminisme Radikal. Negara sebagai penguasa yang tidak memihak antara kepentingan kelompok yang berbeda serta berasal dari teori pluralisme (keberagaman) negara. Mereka menyadari bahwa negara itu didominasi oleh kaum Pria, yang terlefleksi menjadi kepentingan yang bersifat “maskulin”, tetapi mereka juga menganggap bahwa negara dapat didominasi kuat oleh kepentingan dan pengaruh kaum pria tadi. Singkatnya, negara adalah cerminan dari kelompok kepentingan yang memang memiliki kendali atas negara tersebut. Untuk kebanyakan kaum Liberal Feminis, perempuan cenderung berada “didalam” negara hanya sebatas warga negara bukannya sebagai pembuat kebijakan. Sehingga dalam hal ini ada ketidaksetaraan perempuan dalam politik atau bernegara.

Dari ketiga pandangan Feminisme diatas, secara langsung memang tidak menekankan pada pertanyaan “siapakah perempuan?” Melainkan bagian dari upaya untuk menerjemahkan perempuan dalam lingkup relasinya (keterhubungan) dengan lingkungan disekitar mereka (Negara, kebijakan-kebijakan, sistem politik-sosial-budaya-ekonomi, dan lain lain). Jarang ditemukan pengkajian ilmiah yang secara tegas berusaha untuk menjelaskan perempuan dalam konteks subjek eksistensi hidupnya. Mungkin, pendekatan melalui aliran Feminisme Eksistensialisme adalah yang cukup tepat.

2. FEMINISME EKSISTENSIALIS

Dalam tradisi feminisme, setidaknya untuk di Indonesia, eksistensialisme lebih berarti sebagai suatu kajian filosofis. Ia belum banyak dikenal sebagai gerakan baru dari feminisme. Dengan demikian, perlu kiranya kita memahami serta mengenali feminisme eksistensialis dalam kerangka kajian feminisme itu sendiri, dan ditambah dengan refleksi filosofis mengenai eksistensi manusianya.

Feminisme Eksistensialis baru menemukan wajahnya ketika tokoh feminis asal Perancis, Simone Ernestine Lucia Marie Bertnand de Beauvoir, atau yang lebih dikenal Simone de Beauvoir. Untuk pertama kali mengikutsertakan konsep “keberadaan” milik Jean-Paul Sartre, dalam mengkaji feminisme.

Menurut Sartre, terdapat tiga modus “Ada” pada manusia, yaitu Ada dalam dirinya (etre en soi), Ada bagi dirinya (etre pour soi), dan Ada untuk orang lain (etre pour les autres). Etre en soi adalah keberadaan yang penuh, sempurna, dan digunakan untuk membahas obyek-obyek yang non manusia karena tidak berkesadaran. Sedangkan etre pour soi mengacu pada kehadiran yang bergerak dan berkesadaran, yang merupakan ciri khas manusia.

Konsep Sarte yang paling mendekati feminisme adalah etre pour les autres. Ini adalah kajian filosofis yang melihat relasi-relasi manusia. Seperti halnya relasi kaum perempuan dengan kaum lelaki yang banyak dijelaskan oleh teori feminisme. Laki-laki mengobyekkan perempuan. Jadi, laki-laki adalah subyek dan perempuan adalah obyek. Banyak nilai-nilai keidealan yang dianut perempuan, merupakan buah penilaian laki-laki atas perempuan. Setiap nilai mengandung subyektifitas proyeksi serta persepsi kaum lelaki, dan terkristalisasi menjadi suatu keidealan. Sebagai contoh, dalam keyakinan-keyakinan perempuan, kecantikan fisik seorang perempuan yang perlu dibangun adalah kecantikan versi laki-laki. Meliputi diantaranya, rambut panjang, kulit putih bersinar, serta tubuh yang semampai. Termasuk didalamnya mengenai gaya berpakaian kaum perempuan. Lebih dari itu, pola karakter serta sikap tingkah laku perempuan juga ikut diatur. Perempuan yang ideal dimata lelaki adalah perempuan yang tutur katanya sopan, halus, lemah lembut sikap perilakunya, dan lain-lain. Penulis melihat, semua nilai itu tak ayal mengasingkan perempuan dari konsep otentik yang bersifat subjektif tentang eksistensi/keberadaan seorang perempuan. Untuk menghindar dari keterasingan, perempuan perlu bersikap tegas dalam menerima posisi obyek. Tegas yang dimaksud disini adalah, perempuan harus memahami serta memikirkan kembali setiap nilai yang diterimanya dari kaum lelaki, dan mempertentangkannya dengan sisi subjektif yang dimiliki kaum perempuan. Inilah titik awal perempuan yang bereksistensi. Perempuan yang coba menerjemahkan perihal keberadaannya didunia ini. Tidak terkecuali mengenai relasinya dengan para lelaki.

Senada dengan Simone de Beuvoir, tentang hubungan kaum perempuan dan kaum laki-laki. Perempuan menjadi “yang lain” dimata laki-laki sebagai “diri”. Jika “yang lain” adalah ancaman bagi sang “diri”, maka perempuan adalah ancaman bagi kaum laki-laki. Karena itu, jika laki-laki ingin tetap bebas ia harus mensubordinasi perempuan terhadap dirinya. Menurut Beauvoir, laki-laki dapat menguasai perempuan dengan menciptakan mitos bahwa perempuan yang dipuja laki-laki adalah perempuan yang mau mengorbankan dirinya untuk laki-laki. Menurut Margaret A. Simons, ada dua elemen dalam konsep feminisme eksistensialis Simone de Beauvoir. Pertama gender dikonstruksi secara sosial, hasil dari sosialisasi masa kanak-kanak perempuan. Beauvoir mengatakan, bahwa bukan takdir ekonomi, biologis, dan psikologis yang menentukan figur manusia, melainkan peradaban (civilization). Selama ini perempuan dikonstruksikan sedemikian rupa untuk menjadi perempuan yang diinginkan masyrakat. Sekali lagi, perempuan hanya menjadi obyek dalam berbagai aspek, dalam berbagai bentuknya.

Kedua, gender merupakan suatu proses menjadi, karena itu mengandung makna pilihan dan perubahan (choice and change). Gender adalah proses terbuka terhadap tindakan sosial dan pilihan individual. Judith Butler menyebut elemen kedua ini adalah elemen yang paling mewakili sisi eksistensialis dari feminisme Simone de Beauvoir.

Melalui penjelasan diatas, maka dapat ditarik satu garis besar bahwa, feminisme eksistensialis mengajak perempuan untuk menolak segala bentuk opresi—baik itu melalui nilai budaya, kondisi sosial, ekonomi, dan lain-lain—yang dapat mendiskriminasikan perempuan atas hak serta kebebasannya, dan bisa menghilangkan sisi keberadaan/eksistensinya sebagai manusia. Dalam konteks relasi perempuan dan laki-laki di lingkungan masyarakat seperti saat ini, hal yang perlu dilakukan perempuan adalah menghidupi sisi subyektif yang dimilikinya. Ini melihat karena kiranya hampir tidak mungkin seorang perempuan, bahkan juga laki-laki, dalam proses interaksinya menjalin relasi kepada sesama, mampu menghindar dari posisi obyek. Kita boleh saja menerima posisi itu, dengan catatan tidak mematikan sisi subyektif didalam diri kita. Karena hanya dengan menjadi suyektiflah kita dapat melakukan serangkaian aksi berkesadaran dalam memilih pilihan hidup. Hendak kemana dan bagaimana kehidupan kita berjalan, adalah pertanyaan yang hanya mampu dijawab oleh manusia yang telah matang dalam mengelola sisi subyektifnya. Begitupun dengan pertanyaan “siapakah perempuan?” Setiap perempuan, tanpa terkecuali, akan dapat memecahkan teka-teki hidupnya, jika terlebih dahulu perempuan itu menyadari bahwa, ia juga manusia yang memiliki kebebasan dalam memilih serta menentukan arah hidup. Ia bukanlah robot yang dikendalikan dari jauh, dalam jarak yang sulit terjangkau, melainkan hidupnya adalah begitu dekat dengan dirinya. Setiap saat, kapanpun dan dimanapun, ia dapat berinteraksi secara baik dengan dirinya. Hal yang juga perlu dilawan oleh perempuan adalah, segala bentuk internalisasi gagasan yang dapat membatasi, memberi jarak atau bahkan menfragmentasi perempuan dengan dirinya.

Seperti yang terpaut dalam kalimat Simone de Beauvior: “One is not born, but rather becomes a woman”. Kehidupan yang dijalani perempuan adalah serangkaian proses menjadi. Pengelamannya adalah pengalaman perempuan, sebagai subyek, yang coba mengalami serta berusaha menjadi.

Salam, ArisNya

Kritik terhadap Modernitas

Kritik terhadap Modernitas[1]

“Lihat dirimu sendiri.

Berdiri di kursimu dan bercerminlah.

Apa yang kau lihat adalah ciptaan Tuhan.

Kita tidak ditakdirkan menjalani kehidupan melalui mesin.”

(cuplikan kalimat pembuka dari film “Surrogate”)

Modernitas atau modernisasi, sebenarnya ingin menciptakan kesinambungan dalam konteks pembangunan dan kesejehateraan. Proses untuk mencapai tujuan itu memang tidak semudah yang dibayangkan, karena masih banyak ditemukan ketidakadilan dan penindasan yang dilakukan oleh negara maju terhadap negara berkembang. Apalagi ditambah dengan berkembangnya era kesadaran teknologi yang justru di lakoni oleh negara industri maju, sebagai pihak yang ingin memulai perubahan zaman ditandai pengambilalihan fungsi manusia oleh teknologi. Dalam film Surrogate, kita dapat melihat bahwa manusia sudah tidak percaya akan keberadaanya sebagai subyek, karena kediriannya sudah dimatikan oleh teknologi. Manusia mengalami gejala disfungsi sosial akibat berlarutnya masalah sosial yang dihadapi, dan menjadi frustrasi sosial. Tekanan hidup yang dihadapi tidak bisa diatasi sendiri oleh manusia subyek, karena pada dasarnya manusia sangat bergantung pada alat-alat produksi. Namun sayangnya kemampuan manusia dalam melihat itu semua di kedirikan oleh nafsu hedonis, yang justru menyebabkan manusia jadi hilang akal sehatnya dan terkungkung oleh ketidaksadaran diri.

Kebergantungan manusia terhadap modernitas, mencapai puncaknya ketika teknologi menjadi subyek, dan manusia menjadi objek. Di film tersebut, dijelaskan bahwa semua manusia di perut bumi, mengkloning dirinya dengan alat “Surrogate” dengan tujuan manusia terbebas dari tekanan hidup yang tidak menyisakan ruang untuknya menunjukkan kapasitasnya. Manusia tidak terbebas ketika teknologi memerankan ketidaknormalan itu, karena manusia diciptakan Tuhan dalam kondisi ketidakpastian yang terus berlangsung hingga sekarang. Kehadiran teknologi dalam hidup manusia cenderung memutuskan solidaritas sosial yang semestinya menjadi tradisi di era kapitalisme ini, manusia menjadi nirmakna ketika mereka menganggap kehidupan sudah ada yang mengatur, dan manusia menyerahkannya tanpa alasan rasionalitas yang dapat diterima.

Manusia kehilangan independensinya dalam membuat keputusan terkait peranannya dalam kehidupan sosial, dalam menciptakan kesadaran untuk bangkit dari ketidaksadarannya. Manusia menjadi ambigu ketika mereka tidak tahu harus berbuat apa untuk menyelamatkan hidupnya, disorientasi tampak sekali ketika manusia tidak bisa membedakan mana hal yang subjek, dan mana yang objek. Artinya manusia tidak ingin mati, mereka ingin terus eksis tanpa tahu harus bagaimana mewujudkan itu semua. Semua manusia ingin bebas dari tekanan, mengendalikan keinginanya tanpa batasan aturan yang membelenggu dirinya, manusia ingin terlihat sempurna dalam bingkai dunia konsumsi. Keharusan untuk tampil sempurna menjadikan manusia tanpa substansi, tidak berdaya ketika mesin-mesin menawarkan sejuta keinginan kepada manusia untuk mempercantik tubuhnya.

Dan pada saat itu pula, industri bermain secara cerdas menghegemoni manusia untuk menjadi konsumennya tanpa perlu embel-embel sosial yang melekat pada aspek manusia secara keseluruhan. Dalam film tersebut, sangat jelas dimana manusia berlomba-lomba menghamba pada mesin-mesin produksi, untuk tampil beda dan mengkutuk kepribadiannya sendiri, serta menyerahkan kebebasannya pada mesin-mesin produksi. Jadi manusia tidak berproses sama sekali, dia mengalami benturan secara psikis menyangkut eksistensi dalam masyarakat. Manusia tidak percaya diri, walaupun manusia secara hierarki mengendalikan teknologi pada dasarnya itu hanya untuk menunjukkan bahwa manusia sudah kehilangan entitasnya.

Dualitas Manusia.

Pertentangan antara manusia memang pada dasarnya merembet kepada hal-hal yang subjektif, pertentangan itu dimulai ketika manusia tidak lagi menjadi hasrat(liyan) bagi dirinya dan orang lain. Hasrat untuk menjadikan dirinya subyek bagi orang lain, tetapi memilih jalan lain, yaitu menyerahkan hasratnya pada mesin-mesin produksi. Itu yang dipilih oleh sebagian manusia ketika dirinya dihadapkan pada situasi dilematis, tidak ada jalan keluar akibat keharusan ingin mencitrakan dirinya sebagai yang sempurna. Bahwa manusia dikonstruksikan oleh Tuhan tidaklah sesempurna, berarti telah terjadi kontradiksi antara manusia dan dirinya. Ataukah yang sempurna hanya milik Tuhan semata, dan manusia tidak berhak untuk mengklaim ingin dilahirkan secara sempurna? Hasrat untuk terlihat seksi, cantik, lebih mendominasi dialektika manusia saat ini, terlebih ketika dunia konsumsi menjadi budaya baru yang sulit dicegah dampak sosialnya. Lalu apa yang akan terjadi ketika manusia di perankan oleh seonggok robot-robot, tetapi pada saat yang sama manusia mampu mengendalikannya tanpa ada yang bisa menghentikannya? Manusia memperebutkan hasratnya hanya untuk eksistensi, tetapi di satu sisi manusia tidak berdaya bahwa hasrat sebenarnya tidak membutuhkan mesin-mesin produksi untuk menampilkan citranya dihadapan orang lain.

Kegilaan ini tampak semakin vulgar ketika industri kecantikan memberikan pilihan-pilihan kepada konsumennya untuk terlihat ideal dalam perspektif pasar, dan manusia sekali lagi merelakan dirinya menjadi objek dualitas yang manusia ciptakan sendiri. Dikotomi antara dualitas subjek dan objek tampak sekali mengiringi perjalanan film Surrogate, ketika Agen Geer -akhirnya memilih menjadi manusia- tidak bisa melihat secara nyata keadaan istrinya, karena istrinya menjadi robot. Bahwa ternyata pilihan untuk menjadi robot tidaklah sesuai dengan keinginan subjektifnya, walaupun manusia yang mengendalikan tetapi itu tidak membantu, artinya mesin-mesin produksi hanyalah sebuah alat yang tidak memiliki dimensi logika yang sewajarnya dimiliki manusia rasional. Eksistensi manusia tidak bisa diukur dan menyerahkannya begitu saja urusan itu pada mesin-mesin produksi, dan manusia menjadi orang lain( The Other). Bangunan struktur manusia akan runtuh jika manusia tidak lagi mengakui bahwa dirinya sudah menjadi the other, dan pada akhirnya bangunan struktur itu akan menghancurkan sendi-sendi kehidupan sosial, dimana manusia tidak lagi menggunakan hasrat, logika, dan rasa kemanusiaanya untuk merubah ketimpangan dunia yang dimana penindasan, ketidakadilan, korupsi,kemiskinan, tidak lagi dianggap sebagai masalah sosial, tetapi sudah bergeser menjadi sesuatu yang usang, karena yang dipikirkan manusia hanyalah eksistensi diri dalam dunia konsumsi menuju era modernitas kosmopolitan dan di hegemonikan oleh negara-negara industri.


[1]Tulisan ini untuk bahan Diskusi Kamis Sore, Kamis-25 November-2010

Atlantis Indonesia

Oleh Imam Sapargo

Atlantis[1]! Sebuah kata singkat yang telah melewati rentang waktu begitu panjang melalui tradisi lisan para “orang tua”, legenda, bahkan telah menjadi mitos yang terjaga keberadaannya. Namun demikian, kata ini telah dikenal semenjak Plato menulis dua dialog, yakni Timaeus dan Critias sekitar 360 SM yang menjadi reverensi awal akan keberadaan Atlantis itu sendiri. Berdasarkan tulisan tersebut Prof. Arysio Nunes dos Santos[2] melakukan riset selama 30 tahun yang kemudian berhasil menguak tabir dari mitos mengenai Atlantis. “Atlantis benua yang hilang”, “Atlantis kota yang tenggelam dibawah laut”, “Atlantis surga yang pernah ada” dsb itu merupakan mitos-mitos yang kebenarannya berdampingan dengan awal peradaban manusia di bumi.

Perlu dicatat, Prof. Arysio Santos melakukan riset ini dengan menerapkan prinsip “pisau cukur Ockham”[3] untuk semua bahan-bahan risetnya. Salah satunya mengenai penanggalan yang diberikan oleh Plato terhadap bencana alam berskala global yang terjadi selama satu hari satu malam di Atlantis, tepatnya pada tahun 11.600 SM. Penanggalan ini bertepatan pula dengan penanggalan akhir Zaman Es Pleistosen dan juga Meltwater[4]Pulse 1B (disingkat menjadi MWP1B). Hal tersebut menjadi penting dalam riset ini, sebab fenomena geologis yang terjadi menjadi rujukan Prof. Arysio Santos untuk mengurai awal mula peradaban-peradaban yang selanjutnya berkembang di dunia.

Hasil riset tersebut nantinya mampu menjelaskan gejala universalian yang dimiliki oleh banyak peradaban di dunia yang kita kenal, sebut saja Aztlan (Aztec) dan Tolan (Maya) (Keduanya dilahirkan oleh bangsa Inca), India dengan sungai Indusnya, Celtic, Indian C olorado di Amerika Serikat, Minoa-Kreta, Aborigin Australia, Mesir, Roma, hingga ke Yunani. Sebelum sampai jauh kesana, ada baiknya kita mulai dengan Atlantis itu sendiri. Dimanakah letak Atlantis itu sesungguhnya berada? Secara samar dan rahasia, Plato memberikan informasi tersebut dalam tulisannya di bagian dialog Timaeus 24e-25a yang kemudian diterjemahkan oleh Benjamin Jowett[5] sebagai berikut:

“Banyak perbuatan hebat dan luar biasa yang dicatat dari negaramu di dalam sejarah-sejarah kami. Tetapi, salah satu dari hal tersebut melebihi yang lain dalam hal kebesaran dan keberanian. Karena sejarah-sejarah ini menceritakan suatu kekuatan hebat yang secara tak beralasan menjalankan ekspedisi terhadap seluruh Eropa dan Asia, dan yang mana kotamu menjadi titik akhirnya. Kekuatan ini muncul dari Samudra Atlantik – karena di masa itu Samudra Atlantik dapat dilayari – dan di sana ada sebuah pulau yang terletak di depan selat-selat yang kau sebut sebagai Pilar-Pilar Heracles. Pulau ini lebih besar daripada Libia dan Asia digabungkan, dan merupakan jalan ke pulau-pulau lain; dan dari pulau-pulau ini, Anda dapat melintasi keseluruh benua yang berhadapan yang mengelilingi Samudara yang Sesungguhnya. Karena laut ini, yang berada di dalam Selat-selat Heracles, hanyalah sebuah pelabuhan dengan sebuah jalan masuk yang sempit. Tetapi, yang satunya lagi adalah laut sebenarnya dan tanah yang mengelilinginya mungkin benar-benar yang disebut benua tanpa batas.”

Jika kita perhatikan secara seksama kutipan diatas, sesungguhnya Plato tengah bermain kata-kata dengan semua (termasuk kita) orang yang membaca tulisannya. Maka, kalimat tersebut di atas sangatlah sulit diterjemahkan secara harfiah, ini khas perbuatan para cendikiawan pada era itu. Dimana kata dan symbol menjadi penting bagi sebuah kebudayaan. Untuk membuka kode sandi dari rahasia yang disimpan oleh Plato, Prof. Arysio Santos bersama timnya membuat sebuah tabel yang isinya merupakan ciri-ciri pokok Atlantis. Adapun tabel yang dibuat seperti di bawah ini[6]:

Tabel III.1 Geografi Aktual Atlantis yang dituturkan Plato dalam Timaeus (24e-25a)

Dua Pilar (Selat)

Pulau Atlantis (Lebih besar dari Asia+Libia)

Banyak Pulau di Samudra sesungguhnya

Benua Luar di Depan (Benua Sesungguhnya)

Dengan tabel tersebut kemudian Prof. Arysio Santos melakukan riset satu demi satu terhadap semua posisi Atlantis yang dirujuk oleh peneliti-peneliti sebelumnya. Sebagai bentuk penghematan dan kepadatan tulisan ini, saya mencoba melompat melewati uraian-uraian rinci dalam buku ini terkait letak Atlantis yang direkomendasikan tersebut, hingga meninggalkan beberapa daftar nama-nama tempat yang ditolak oleh Prof. Arysio Santos pada akhirnya. Misalkan dalam Kasus Kuba dan Kepulauaun Karibia,[7] Kasus Kreta, Cyprus, Malta, dan Lokasi Mediterania lainnya,[8] Kasus Paparan Celtic, Maroko, dan Tartessos,[9] hingga Antartika dan Samudra Arktik.[10]

Lompatan saya ini pun kemudian sampai kepada hasil temuan Prof. Arysio Santos dalam tabel IV.1 yang isinya adalah sebagai berikut:[11]

Tabel IV.1 Hasil Pengamatan terhadap Wilayah Indonesia dan Selat Sunda

Selat bermulut sempit (Sunda)

Pulau sangat luas terletak tepat di depan (Lebih besar dari Libia dan Asia) (Atlantis-Indonesia)

Banyak Pulau di depan (Melanesia, Mikronesia, Polinesia) di Samudra sesungguhnya (Pasifik)

Benua Luar di luar Samudra Sesungguhnya (Amerika)

Tabel tersebut adalah bukti otentik dari apa yang dikatakan oleh Plato kepada kita yang dirumuskan oleh Pro. Arysio Santos. Jika kita masih memiliki pikiran bahwa rumus itu salah (memang bisa salah), maka semua kebetulan dan kebenaran-kebenaran ini mesti dicari perbandingannya kembali. Mari kita perhatikan kembali, dimana lagi ada ciri-ciri tersebut yang dapat ditemukan selain di Indonesia?

Setelah kita mengurai secara singkat letak Atlantis di Indonesia, seperti yang saya tulis sebelumnya dibagian awal kita akan kembali melihat gejala universalian yang terjadi diseluruh peradaban dunia yang kejadiannya hanya dapat dijelaskan oleh sebuah divusi (penyebar luasan) budaya dari satu dinasti yang sangat besar yang membentang dari Samudra Hindia hingga Samudra Pasifik, yakni Atlantis itu sendiri. Mari kita mulai memundurkan hitungan waktu saat manusia (atau lebih tepatnya sejenis kera yang menyerupai manusia (anthropoid simian) yang merupakan nenek moyang kita) muncul pertama kali di kawasan Afrika sekitar tiga juta tahun yang lalu. Saat itu mereka tinggal di daerah sabana-sabana.[12] Tentu saja beriklim tandus sementara dibelahan bumi lainnya (Eropa) saat itu beriklim dingin dan tertutup salju. Kedua tempat tersebut tidaklah cocok sebagai tempat mereka tinggal sehingga mereka pun melakukan eksodus secara besar-besaran menuju Eurasia dan mencapai timur jauh (baca Indonesia) dan Australia setidaknya sekitar satu juta tahun yang lalu. Budaya bercocok tanam kemudian berkembang pesat diwilayah ini yang kemudian Plato namakan sebagai Atlantis tua atau Atlantis Lemuria satu dari dua Atlantis yang disebutkan oleh Plato.

Kedua Atlantis yang dirujuk oleh Plato sebetulny sama dengan Ibu dan Putra dalam tradisi-tradisi suci sebagian besar bangsa di bumi ini. Peradaban Atlantis Lemuria dengan budaya bercocok tanamnya membuat daerah ini (baca kembali Indonesia) menjadi surga atau eden. Dialah Ibu yang melahirkan peradaban Atlantis (putra) selanjutnya tanpa “dibuahi” karena dialah satu-satunya peradaban yang ada ketika itu. Hingga pada akhirnya terjadi bencana yang bersifat global yang mempengaruhi kehidupan mereka, yakni bencana meletusnya gunung merapi Toba kurang lebih 75 ribu tahun yang lalu.

Bencana ini hampir tak bisa tertahankan, hingga membuat populasi manusia saat itu menjadi langka, hingga mencapai ribuan orang. Karena Atlantis Lemuria telah luluh lantah, terjadilah kembali Eksodus manusia untuk kedua kalinya yang mencapai India hingga ke Mesir. Catatan tambahan, bahasa sebagai alat komunikasi manusia telah ada waktu itu, bahasa tersebut adalah bahasa Sansekerta dan bahasa Dravida, kedua bahasa tersebut adalah bahasa keseharian bangsa Atlantis pada saat itu. Dimana saat terjadi eksodus manusia, kedua bahasa tersebut tetap dipertahankan, dan kemudian menjadi akar bahasa bangsa mesir untuk pertama kalinya. Dari bahasa inilah kita kemudian mengenal kata padi di Indonesia, dimana kata tersebut diambil dari nama belakang Saning sari (atau sarici=padi). Kemudian meluas ke dalam bahasa lain seperti kata oryza (Yunani), cerealis (Latin), dan rice (Inggris).

Kembali ke Atlantis, sebagaian dari ribuan orang tersebut memilih bertahan di India dan Mesir, sedangkan sebagian yang lain memilih untuk tetap kembali ke surga yang telah mereka tinggalkan. Mereka inilah kemudian yang secara berkala kembali menghidupkan Atlantis sebagai surga yang mereka tempati sebelumnya. Plato kemudian menguraikan lebih jauh mengenai Atlantis ini yang katanya Atlantis berada di kawasan tropis pada zaman es Pleistosen, berlimpah sumber daya alam, seperti timah, tembaga, seng perak, emas, berbagai macam buah-buahan, padi, rempah-rempah, gajah raksasa, hutan dengan berbagai jenis pohon, sungai, danau, dan saluran irigasi. Namun demikian, bencana kembali terjadi. Penyebabnya saat ini adalah karena letusan besar gunung merapi Krakatau yang terjadi pada tahun 11.600 SM yang mengakibatkan berakhirnya zaman es Pleistosen. Es yang mencair kemudian meluap hingga ketinggian mencapai 130-150 meter dan bahkan lebih.[13]

Kisah Atlantis yang tenggelam ini, terdapat juga di dalam naskah kuno Aztec yang berasal dari pra kolombia. Gambar pertama,[14] menunjukan Surga priomordial bangsa Indian Meksiko tengah tenggelam. Pada gambar tersebut laut tengah bergejolak yang hanya menyisakan puncak gunung berapi yang berbentuk pulau. Kemudian, gambar laki-laki diatas gunung tersebut merujuk pada tradisi Yunani yakni Atlas yang menopang bumi. Gambar kedua, [15]yang berasal dari kuil Maya di Yucatan, Meksiko. Gambar tersebut kita melihat alias atau tiruan Nuh yang tergesa-gesa meinggalkan wilayah Tolan, surge bangsa Maya, yang hancur. Ikan mati dan orang mati menggambarkan dengan jelas sifat mematikan dari bencana besar yang ditunjukan gambar ini. Dan demikian pula dengan kuil batu yang tampak hancur menyisakan gunung merapi yang berbentuk pulau.

Tadi kita sempat menyinggung atlas, untuk mengetahui sosok atlas lebih jauh lihat gambar Quetzalcoatl dan Atlas yang memikul langit.[16] Gambar pertama menggambarkan Quetzalcoatl yang memikul langit, sedangkan gambar kedua menunjukan Atlas melakukan hal yang sama menurut mitologi Romawi dan Yunani. Karena mereka menyangga langit inilah maka mereka dipersonifikasikan sebagai pilar-pilar Herkules. Dimana pilar herkules tersebut pada akhirnya merujuk pada gunung Krakatau itu sendiri yang meledak pada saat itu. Sekedar informasi nama Krakatau rupa-rupanya berasal dari bahasa sansekerta krakaca yang berarti “sabit, arit” atau “pedang”. Perujukan kata “sabit” atau “pedang” rupa-rupanya merujuk kepada fakta bahwa letusan Krakatau benar-benar memisahkan Jawa dan Sumatra, seolah-olah dibelah oleh sabit atau pedang dimana Atlantis itu berada. Letusan gunung merapi itu pun berlanjut hingga kini, sehingga kawasan Indonesia dapat juga disebut sebagai “Sabuk Api Pasifik”.

Inilah informasi-informasi yang berkaitan langsung dengan Atlantis Indonesia. Bukti-bukti yang dikemukakan oleh Prof. Arysion Santos dalam bukunya tersebut benar-benar menunjukan fenomena geologis yang serupa antara Atlantis dengan Indonesia. Sehingga kebenaran buku ini tidak dapat lagi terbantahkan, paling tidak hingga menunggu buku lainnya yang dapat menjelaskan lebih rinci dan detail dari pada buku ini.

Depok, menjelang fajar.


[1] Tulisan ini ditujukan sebagai bahan diskusi dalam forum Diskusi Kamis Sore dalam bedah buku karya Prof. Arysio Santos yang berjudul Atlantis: The Lost Continent Finally Found

[2] Seorang fisikiawan nuklir dan ahli geologi dengan gelar Ph.D. yang berasal dari negara Brazil.

[3] Prinsip yang menyatakan, “Berpeganglah pada satu penyebab tunggal jika hal tersebut bias menjelaskan semua hal.”

[4] Air yang terbentuk oleh mencairnya salju dan es, khususnya dari gletser.

[5] Lihat bagian III: Beragam Lokasi Atlantis, halaman 321 dalam buku Prof. Arysio Santos

[6] Lihat bagian III: Beragam Lokasi Atlantis, halaman 329 dalam buku Prof. Arysio Santos

[7] Diulas lebih mendalam dan rinci pada bagian III: Beragam Lokasi Atlantis, halaman 333-339 dalam buku Prof. Arysio Santos

[8] Halaman 339-361

[9] Halaman 381-403

[10] Halaman 405-421

[11] Perhatikan tabel IV.1 di halaman 549

[12] Sabana: lapang rumput yang terbuka luas.

[13] Lebih dalam dibahas pada bagian I: Sejarah Atlantis yang Sesungguhnya mulai dari halaman 119-145 dalam buku Prof. Arysio Santos

[14] Buka halaman 168

[15] Buka halaman 173

[16] Buka halaman 175