Monday, April 14, 2008

Strukturalisme

Strukturalisme[1]

Oleh Rizki Setiawan[2]

Tepat setelah Perang Dunia II eksistensialisme menjadi mode intelektual di Prancis, yang kemudian pada tahun 60-an strukturalisme menjadi begitu populer yang kemudian juga menjadi mode.

Linguistik Modern

Ferdinand de Saussure (1857-1913) telah meletakkan dasar untuk linguistik modern. Ia lah yang merumuskan tiga pembedaan yang memegang peranan dalam strukturalisme, yaitu signifian dan signifié, lantas langage, parole dan langue, dan akhirnya sinkroni dan diakroni.

Signifian dan Signifié

Menurut saussure tanda bahasa yang dipelajari linguistik terdiri atas dua unsur; le signifiant dan le signifie, yang berarti penanda dan yang ditandakan. Signifiant adalah bunyi yang bermakna atau coretan yang bermakna (aspek material bahasa). Signifié adalah gambaran mental, pikiran atau konsep( aspekmental bahasa). Signifian dan signifié merupakan kesatuan, sehingga dalam tanda bahasa yang konkret kedua unsur ini tidak dapat dipisahkan. Suatu Signifian tanpa signifié tidak akan berarti apa-apa dan karena itu bukan tanda. Sebaliknya, signifié tidak mungkin terlepas dari signifiant; yang ditandakan itu termasuk tanda itu sendiri. Oleh karena itu dalam linguistik kita tiadk memandang lagi subjek yang bicara.

Langage, Parole dan Langue

Parole dimaksudkan pemakaian bahsa yang individual atau dapat dikatakan sebagai cara individu memakai bahasa. Namun parole tidak dipelajari oleh linguistik. Sementara itu, yang dimaksudkan dengan langue adalah bahasa sejauh merupakan milik bersama dari suatu golongan tertentu. Akibatnya langue melebihi semua individu yang berbicara bahasa itu.

Menurut Saussure langue itu harus dianggap sebagai sistem. Untuk menjelaskannya perbandingan, yaitu bahasa sebagai langue dapat dibandingkan dengan main catur. Bahasa itu bukan subtansi, melainkan bentuk saja. Bahan dari mana bahasa tidak memegang peranan, yang penting dalam bahasa adalah aturan-aturan yang mengkonstitusikannya. Yang penting ialah susunan unsur-unsurnya dalam hubungan satu sama lain. Yang penting adalah relasi-relasi dan oposisi-oposisi yang membentuk sistem itu. Dengan demikian hubungan antara signifian dan signifié pun bersifat arbitrer. Alasannya ialah bahwa setiap tanda bahasa mendapat nilainya hanya karena tercantum dalam sistem bahasa (dan bukan karena salah satu ciri natural.

Sinkroni dan Diakroni

Sinkroni dapat dijelaskan sebagai “bertepatan menurut waktu” dan diakroni sebagai “menelusuri waktu”. Diakroni adalah peninjauan historis, sedangkan sinkroni adalah peninjauan ahistoris. Bahasa dapat diselidiki sebagai sistem yang berfungsi pada saat yang tertentu (dan dengan demikian tidak memperhatikan bagaimana bahasa itu berkembang sampai keadaan saat itu) dan kita dapat menyoroti perkembangan bahasa sepanjang waktu. Menurut Saussure, linguistik harus memperhatikan sinkroni sebelum menghiraukan diakroni. Dengan demikian, linguistik tidak hanya mengesampingkan semua unsur ekstra lingual, linguistik juga melepaskan objek studinya dari dimensi waktu.

Namun Saussure juga tidak serta merta menolak penyusuran diakroni, menurutnya sinkroni harus mendahului diakroni. Karena tidak ada gunanya mempelajari perkembangan salah satu unsur bahasa, terlepas dari sistem-sistem dimana unsur tersebut berfungsi.

Struktur

Dalam uraian tentang prinsip-prinsip linguistik tak kunjung disebut istilah struktur, karena kata ‘struktur’ tampil secara spontan bila orang berfikir menurut prinsip-prinsip Saussure. Maka, untuk memahami perbedaan strukturalisme dengan aliran pemikiran lain harus kembali pada pasangan-pasangan seperti umpamanya signifian dan signifié, lantas langage, parole dan langue, dan akhirnya sinkroni dan diakroni.

Linguistik menjadi “Model”

Pada awal abad ke-20 di Rusia terdapat sejumlah sarjana (Mazhab Praha) yang menggunakan metode strukturalisme. N. Trubetzky dan Jacobson menerapkan prinsip-prinsip Saussure pada fonologi dan dengan demikian mereka telah meletakkan dasar bagi fonologi modern. Ini membuat linguistik seakan menjadi “model” bagi ilmu-ilmu manusia yang lain. Hal ini dimungkinkan sebab manusia- bertentangan degan hewan- adalah makhluk yang berbakat simbolik. Kultur terdiri dari sistem-sistem simbolis, dan tidak dapat disangkal bahasa adalah bagian simbolis yang paling penting dan menjadi dasar untuk sistem simbolis. Dengan demikian metode strukturalistis berkembang lebih luas dari pada studi bahasa saja.

Strukturalisme dan antropologi budaya; Claude Lévi-Strauss

Fonologi terutama ditandai tiga ciri yang ketiganya dapat dimanfaatkan dalam ilmu antropologi. Pertama, sebagaimana bahasa seluruhnya merupakan suatu sistem tanda, demikian pula unsur-unsur bahasa yang disebut fonem-fonem merupakan suatu sistem yang terdiri dari relasi-relasi dan oposis-oposisi. Kedua, sistem itu harus dipelajari secara sinkronis sebelum menyelami masalah-masalah diakronis. Yang terakhir, hukum-hukum linguistik memperlihatkan suatu taraf tak sadar. Hukum-hukum bahasa umpamanya diterapkan orang tanpa ragu-ragu, yang berarti sistem bahasa dibentuk oleh “psike manusiawi” yang refleksif dan tak sadar.

Kemudian dalam bukunya Struktur-struktur elementer kekerabatan Lévi-Strauss menganalisa dan menjelaskan sistem-sistem kekerabatan primitif dengan memakai metode strukturalistis. Ia beranggapan bahwa aturan-aturan yang diikuti klen-klen primitif di bidang kekerabatan memang merupakan suatu sistem. Salah satu aspek yang menarik dalam buku tersebut adalah Lévi-Strauss menemukan adanya universalitas kultur yang melarang incest. Dalam semua kebudayaan terdapat larangan incest, yang berbeda hanyalah isinya.

Lévi-Strauss berpendapat bahwa larangan incest itu merupakan fenomena negatif dari suatu fenomena positif; orang wajib menikah di luar klennya sendiri. Perintah eksogami adalah sebagai implikasi negatif dari larangan endogami. Itu berarti larangan untuk menikahi lawan jenis dari satu klen berarti juga kewajiban untuk menyerahkannya pada klen lain, agar pada gilirannya klen lain juga akan memberikan orang mereka untuk menjadi pasangan saya. Dasar dari hubugan-hubungan sosial adalah pertukaran, dan pernikahan merupakan model pokok dari pertukaran. Larangan incest bersifat universal karena mengingkari larangan berarti menumbangkan tiang-tiang masyarakat. Pertukaran merupakan semacam “hukum alam” bagi kehidupan sosial. Dengan menikah di luar klennya sendiri akan menciptakan kehidupan sosial, yang ditandai dengan lahirnya kultur. Sudah nyata kiranya bahwa proses ini berlangsung pada taraf tak sadar dan akibatnya berasal dari suatu aktivitas tak sadar dari psike manusiawi.

Lalu pada buku Lévi-Strauss yang paling dekat dengan filsafat adalah “Pemikiran Liar”(1962). Di sini Ia ingin memperlihatkan kesimpulan dari antropologi strukturalnya, dan bab terakhir dipakai untuk mengkritik atas buku Sartre Kritik atas Rasio Dialektis. Salah satu pemikiran Lévi-Strauss yang tampak sepanjang buku ini adalah tidak ada perbedaan antara “pemikiran jinak” dengan “pemikiran liar”, antara pikiran masyarakat primitif dan masyarakat saat ini. Pemikiran primitif maupun pemikian ilmiah yang modern adalah sama-sama berfikir logis. Hanya saja caranya berlainan. Pemikiran liar bersifat konkret, namun bekerja hanya pada taraf inderawi. Pemikiran ini mengatur (dan bagi Lévi-Strauss inti pemikiran ialah menciptakan orde atau tata susunan), tetapi pemikiran ini tidak memikirkan dirinya sendiri; pemikiran ini tidak refleksif.

Dengan ini Lévi-Strauss tiba pada pendiriannya mengenai pemikiran tanpa subjek. Pemikiran tidak berasal dari suatu ‘subjek’. Berfikir adalah mengklasifikasi, dan karena peraturan-peraturan yang diikuti dalam hal itu tidak disadari, baginya subjek tidak mempunyai peranan. Dengan berpikir manusia hanya mempraktekkan struktur yang terdapat dalam realitas.

Selanjutnya dalam karya raksasa yang diberi judul umum Mythologiques hanya mewujudkan gagasan yang sudah ada dalam Pemikiran Liar. Mitos merupakan hasil dari kreativitas psike manusia yang sama sekali bebas. Mitos juga terdiri atas relasi-relasi serta oposisi-oposisi dan bahwa dengan cara demikian “pemikiran liar berhasil meniptakan keteraturan dalam dirinya.

Dalam usaha menginterpretasikan mitos, Lévi-Strauss membedakan unsur-unsur elementer dalam setiap mitos(dinamakan mythémme). Misalkan pada cerita oidipus yang membunuh ayahnya, boleh diangap sebagai mitem tersendiri; dan bahwa Oidipus menikahi ibunya, merupakan suatu mitem lain. Interpretasi ini berlangsung dengan mengaitkan relasi-relasi dan oposisi-oposisi antara unsur-unsur elementertersebut. Dan yang lebih ditekankan adalah pentingnya membaca mitos secara lengkap, dan mitos-mitos juga harus dikaitkan satu sama lain.

Strukturalisme dan Psikoanalisa; Jacques Lacan

Lacan mengungkapkan bahwa mimpi, gejala neurotis, “salah tindak” dan lain-lain merupakan penanda. Seluruh percakapan si analis dengan si analisan juga merupakan seuntai rantai penanda-penanda. Ketidaksadaran adalah semacam logos yang mendahului manusia perseorangan. Ketidaksadaran merupakan struktur, tetapi manusia sendiri tidak menguasai struktur ini. Ketidaksadaran di sini dalam konteks percakapan psikoanalisis, percakapan seorang psikoanalis dengan analisannya. Dalam percakapan itu ketidaksadaran tampak sebagai bahasa. Dalam percakapan tersebut subjek tidak berbicara, namun subjek dibicarakan.

Subjektifitas

Anggapan modern mengenai subjektifitas berasal dari descartes, karena filsuf prancis ini menunjukkan cogito[3] sebagai tolak bagi filsafat. Hal ini menandakan bahwa kesadaran merupakan hakikat manusia. Manusia menyadari bahwa dia adalah manusia; dan apa saja yang diperbuat manusia, ia menyadari bahwa dialah yang memperbuatnya. Kesadaran membuat manusia menjadi manusia; manusia adalah subjek karena kesadarannya.

Salah satu pokok ajaran strukturalisme adalah mereka menolak semua prioritas kesadaran itu. Manusia takluk pada sistem, dan bukan lagi otonom. Subjektivitas merupakan buah hasil suatu proses strukturasi yang tidak dikuasai manusia. Selain itu, berkaitan dengan subjektifitas, strukturalisme juga menentang humanisme.

Kesimpulan; Ideologi atau metode?

Strukturalisme merupakan suatu pendekatan ilmiah yang telah membuktikan eksistensinya, namun strukturalisme yang digunakan sebagai ideologi harus ditolak. Karena manusia tidak bisa semata-mata hanya dipandang sebagai bagian dari struktur.


[1] Resume Bab Strukturalisme pada buku K. Bertens (2001). Filsafat Barat Kontempoter;Prancis. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.

[2] Mahasiswa Sosiologi Pembangunan 2003, Koordinator DKS

[3] Cogito diartikan sebagai aku berfikir, namun dalam karyanya jelas bahwa cogito berarti aku menyadari.

1 comment:

Anonymous said...
This comment has been removed by a blog administrator.